Kisah Cinta Anak dan Ibu (Dayang Sumbi)

by

Dayang Sumbi  (Episode I)
Sungging Perbangkara Seorang , Raja kecil yang gemar berburu, suatu hari bersama beberapa orang sahabat dan hambanya pergi menyelusuri hutan didekat istana peritirahatan pribadinya.  Saat berburu itulah Sungging bertemu seorang gadis dusun cantik nan elok bernama Nyai Sariti, Kedua insan berlainan jenis ini saling tertarik pada pandangan pertama yang selanjutnya melakukan hubungan diluar nikah.

Nyai Sariti seorang gadis elok dusun yang miskin, hidup bahagia beberapa hari di istana tetapi kemudian ia diusir dan lupakan begitu saja. Karena Nyai Sariti punya dua kebiasaan yang sangat tidak disukai oleh Sungging. Yakni, cara makannya yang ribut dan rakus, juga dikala tidur Nyai Sariti selalu mendengkur keras dan ribut. Mirip cara makan dan mendengkurnya babi (pengertian filosofis untuk sosok babi dalam versi umum).

Nyai Sariti dicerca, dimaki lalu kemudian diusir , hidupnya terlunta-lunta , belakangan nekad meninggalkan bayi perempuan mungil yang ia lahirkan ditengah hutan akibat Hugel (hubungan gelap) dengan Sungging kemudian ia bunuh diri. Bayi mana kemudian ditemukan kembali oleh Sungging ketika berburu. Membawa pulang bayi yang tak jelas siapa orangtuanya untuk diadopsi sebagai anak dan kemudian ia berinama Dayang Sumbi. Tanpa menyadari bahwa Dayang Sumbi adalah darah dagingnya sendiri, hasil hubungan diluar nikah dengan Nyai Sariti.

Lalu musibah demi musibah pun datang beruntun. Awalnya, pada saat Dayang Sumbi memasuki usia dewasa , bak bunga mawar yang sedang mekar, berkulit kuning langsat menutupi seluruh permukaan tubuh yang padat , berlekuk lembut elok mengeluarkan wewangian alami seorang perawan , wajah bulat telur yang dihiasi mata , hidung dan mulut sangat sempurna , lentik buluh mata, hidung mancung ,bibir tipis memerah merekah , bak bidadari turun dari kahyangan, pada suatu waktu  ia mendengar ayah dan ibunya bertengkar hebat. Dalam pertengkaran mana disebut – sebut tentang Dayang Sumbi yang ditemukan oleh Sungging ditengah hutan. Tanpa jelas asal usulnya. Mendengar itu, Dayang Sumbi yang cantik jelita ,bathinnya langsung terpukul, memutuskan minggat dari rumah orangtuanya, seraya meninggalkan supucuk surat pada sang ayah. Bahwa Dayang Sumbi akan hidup menyepi di istana peristirahatan  pribadi keluarga mereka ditengah hutan.

Tanpa boleh didatangi atau diganggu oleh sang ayah, sampai Dayang Sumbi menemukan jati diri dan juga keberadaan ayah dan ibu yang melahirkannya. Sungging yang sangat menyayangi dan menguatirkan keselamatan Dayang Sumbi, menyetujui permintaan sang puteri tercinta. Tetapi sambil mengutuskan 2 orang penjaga, seorang pelayan dan Tumang anjing setia keluarga untuk menemani dan melindungi keselamatan Dayang Sumbi, yang dengan berat hati terpaksa diterima juga oleh Dayang Sumbi.

Musibah berikutnya datang menyusul dalam tempo singkat. Dayang Sumbi yang mengisi waktu luang diluar kesibukan mencari keberadaan orangtua kandungnya dengan membuat hiasan strimin sebagai hobbi utamanya, suatu hari tanpa sengaja menjatuhkan gulungan benang yang sangat menentukan keindahan strimin yang tengah di kerjakan. Setelah dicari kesana sini dibantu oleh pelayan dan para pengawalnya masih juga tak ditemukan, dalam ketidak sabarannya Dayang Sumbi kemudian mengucapkan janji yang bersifat sumpah.

Bahwa siapa pun yang menemukan gulungan benang dimaksud jika perempuan akan dijadikan saudara yang akan ia limpahi kekayaan. Dan jika laki-laki, akan ia jadikan suami. Maka, semakin sibuk dan bersemangatlah mereka yang mendengar untuk mencari gulungan benang yang hilang. Uniknya, yang paling sibuk dan paling bersemangat mencari adalah Tumang, si anjing setia.
Beberapa hari kemudian datanglah seorang pemuda gagah, tanpan , tegap dan kuat yang justru menemukan dan mengantar langsung benang dimaksud pada Dayang Sumbi. Dalam laporan sang perjaka bahwa barang yang ditemukan itu sebenarnya ditemukan oleh seokor anjing dan setelah itu menyerahkan kepadanya lalu anjing tersebut menghilang entah kemana, Sumpah telah terucap dan Dayang Sumbi terpantang mengingkarinya. Maka Sang Perjaka  pun ia terima keberadaannya sebagai suami, sekalipun anjing peliharaan telah hilang.
Selama beberapa bulan , kedua muda mudi tak pernah berpisah , bahkan lebih banyak berada didalam kamar ketimbang berjalan jalan ditaman, memadu cinta yang membara ,Dayang Sumbi mulai merasakan perubahan fisik tubuhnya , perut makin membesar dan menambah kasih sayang sang suami, dan kemudian akhirnya memperoleh keturunan seorang bayi sehat dan tampak yang ia berinama Sangkuriang.
Sesaat sebelum kelahiran Sangkuriang , sang suami berniat mencarikan mustika yang akan dipersiapkan pemberian calon putra yang akan lahir, konon khabarnya mustika tersebut berada di gunung tak jauh dipinggiran hutan tempat istana bereka berdua, maka berangkatlah sang suami.

Bertepatan kelahiran sangkuriang , sang ayahpun tak kunjung kembali , lima tahun kemudian Dayang Sumbi bermimpi bahwa sang suami kembali tepat matahari terbit keesokan harinya. Tak disangka sewaktu membuka pintu istana yang tampak bukanlah sang suami tercinta tetapi anjing kesayangan yang hilang 5 tahun yang lalu dan dilehernya tergantung mustika batu giok seperti yang dijanjikan suaminya 5 tahun yang lalu, karena itulah dayang sumbi menganggap Tumang adalah jelmaan suami tercinta 

Alkisah, Sangkuriang kemudian tumbuh menjadi seorang anak tampan, pemberani serta gemar berburu seperti halnya Sungging sang kakek. Demikian pula Dayang Sumbi , kecantikan dan keelokannya makin merekah , malah tak ada yang menyangka bahwa Dayang Sumbi telah mempunyai anak berumur 10 tahun, kecantikannya sekarang mengalahkan kecantikan 10 tahun yang lalu, kemudian pada suatu hari ketika Sangkuriang pergi berburu ditemani Tumang , anjing kesayangan , sang ibu berpesan minta dibawakan hati menjangan kesukaannya. Sangkuriang menyanggupi.

Tetapi ketika dengan susah payah dan akhirnya melihat seekor menjangan, mendadak Tumang si anjing setia membuat ribut bahkan menghalangi niat Sangkuriang yang sudah siap menembak menjangan tersebut.

Karena dimata Tumang, sosok menjangan itu terlihat sosok pria berpakaian putih-putih gemerlapan, mirip seorang Dewa . Keributan Tumang tentu saja membuat sang menjangan minggat dan tak bisa ditemukan lagi. Yang seketika membangkitkan kemarahan Sangkuriang yang dengan kalap kemudian menembak Tumang lalu hati si Tumang ia bawa pulang dan dipersembahkan pada sang ibu sambil berbohong mengatakan yang ia bawa adalah hati menjangan.

Yang setelah dimasak lalu disantap Dayang Sumbi, lalu ditanya mengapa hati yang ia santap jauh lebih gurih dan lebih nikmat ketimbang hati menjangan sebelumnya yang biasa disantap Dayang Sumbi. Acuh tak acuh Sangkuriang lantas berterus terang hati apa sesungguhnya yang sudah dimakan oleh sang ibu.

Tak pelak lagi dalam keterkejutannya, Dayang Sumbi langsung memukul kepala puteranya dengan sebuah alat dapur yang membuat kepala Sangkuriang terluka parah. Tak cukup sampai disitu, Sangkuriang kemudian diusir sambil diberitahu bahwa si anjing setia Tumang adalah jelmaan ayah kandung Sangkuriang sendiri. Apa yang akan terjadi selanjutnya?

bersambung…kisah cinta anak dan ibu (Sangkuriang)

Tag: , ,

Satu Tanggapan to “Kisah Cinta Anak dan Ibu (Dayang Sumbi)”

  1. anggi Says:

    buku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: