Kisah Cinta Anak dan Ibu (Tangkuban perahu)

by

Tangkuban perahu (Episode. III)

Tanpa pikir panjang, Sangkuriang  bergegas ke kamar Dayang Sumbi. Sambil mendekat dan menemukan Dayang Sumbi duduk ditepian pembaringan sambil tersenyum manis namun dipelupuk matanya tampak butir air mata bak mutiara yang memancarkan kebahagian yang tak terhingga. serta merta tangan Sangkuriang  memeluk sang kekasih calon isteri yang tercantik seantero negeri, …

Dalam dekapan sang kekasih , Dayang Sumbi juga mulai bembelai rambut Sangkuriang, Asmara yang membara dan menggelora tiba-tiba disirnakan oleh tanda bekas luka di kepala, persis tempat bekas luka anaknya 10 tahun yang lalu, kemudian perlahan lahan naluri keibuan Dayang Sumbi mendominasi dan merubah suasana mencadi cinta kasih seorang ibu kepada anaknya, namun emosi dayang sumbi tetap ditahannya sambil bangun untuk duduk dan merapikan pakaiannya seadanya , ia mendorong tubuh sangkuriang perlahan-lahan dan dibaringkannya diatas pangkuannya kemudian ia bertanya ” Wahai Calon Suamiku, dapatkah engkau menceritrakan kepada Adinda , kejadian bekas luka dikepala kakanda ??”, tanpa ragu-ragu Sangkuriang menceritrakan secara detail  kronologis kejadiannya 10 tahun yang lalu sampai ia di usir oleh ibunda tercinta. Tak terasa butir air mata kasih sayang seorang ibu , dayang sumbi menetes di wajah sangkuriang , rasa syukur terimah kasih kepada yang kuasa , anak yang tercinta yang diusirnya 10 tahun lalu kini telah kembali dan berbaring diatas pangkuan dengan penuh rasa manja. dipandangnya wajah anaknya, fikirannya sangat kalut , bahagia bercampur perasaan berdosa , dalam hatinya ia berdoa dan memohon petunjuk kepada Yang kuasa “Ampunilah hambamu yang berdosa ini , dalam ketidak tahuan kami Ibu-Anak telah melakukan perbuatan suami -isteri yang sepatuhnya tidak boleh dilakukan” desah nafas dayang sumbi yang hangat dan harum menerpa wajah sangkuriang yang berbaring dipangkuannya, dengan perasaan bahagia karena akan mempersunting seorang Putri yang kecantikannnya melebihi berita yang tersebar diseluruh pelosok negeri ini membuat sangkuriang berkata ” Wahai Calon Isteriku yang cantik jelita , adakah satu permintaanmu yang pasti Kakanda penuhi”  hening sejenak , namun perasaan emosi dayang sumbi hampir hampir tak bisa terbendungi lagi, tetapi dengan tenangnya sambil membelai rambut anaknya , ia berkata ” Wahai Calon Suamiku, besok siang kan hari pernikahan kita, berarti masih ada waktu satu malam kesempatan kakanda membuatkan Adinda sebuah perahu yang besar , sebesar gunung nun jauh disana, dan selesai sebelum terbit fajar di ufuk timur, berarti jiwa dan tubuh Adinda ini adalah milik Kakanda sepenuhnya” , arti permintaan dayang sumbi ini ialah untuk mempersuntingnya , sangkuriang harus membuatkan sebuah perahu dan selesai sebelum pagi. Permintaan Dayang Sumbi kedengarannya tidak wajar bagi orang biasa, tetapi bagi Sangkuriang , permintaan itu hal yang sangat sepele , lalu dengan bangganya ia pun berkata dan bersumpah ” Kakanda penuhi permintaan Adinda , akan kakanda persembahkan sebuah perahu besar diselesaikan sebelum fajar menyonsong di ufuk timur”, lalu ia pun pamit keluar kamar dayang sumbi , dengan hati yang berbunga-bunga melangkah menuju kamarnya untuk mempersiapkan pembuatan perahu yang diminta oleh calon isteri yang tercinta.

Sesampai dikamarnya, sangkuriang mulai bersemedi memanggil semua jin-jin pembantunya, setelah semua pembantunya terkumpul kurang lebih seribu jin, lalu berkatalah sangkuriang ” Wahai pembantuku yang setia, dapatkah kamu membuatkan sebuah perahu yang besar ?” yang ia jelaskan spesifikasinya sesuai permintaan dayang sumbi, dijawab oleh para pembantunya ” Pasti selesai tuanku satu kentongan sebelum mata hari terbit”. Sangkuriang mulai tenang, dan sangat berbahagia, betapa tidak bahwa mulai besok secara resmi ia mempersunting seorang dewi yang sangat cantik dan bersahaja seperti ibundanya yang ia sangat rindukan, rencananya setelah mempersunting dayang sumbi , ia akan mengajak isterinya untuk mencari ibundanya , sekalipun ibundanya berada diseberang laut selatan yang maha luas.

Sesaat , setelah matahari mulai tergelincir di balik gunung bagian barat berarti pekerjaan pembuatan perahu dimulai oleh para pembantunya, waktu perlahan lahan bergulir namun pekerjaan pembuatan perahu sangat cepat , secepat denyut jantung sangkuriang menantikan kabar selesainya pembuatan perahu pesanan dayang sumbi. Kira kira 2 kentongan sebelum fajar menyonsong di ufuk timur datanglah kepala pembantunya melaporkan perkembangan ” Tuanku Sangkuriang yang mulia, perahu sudah hampir selesai , yang kurang adalah tiang layar ditengah, diperkirakan penyelesaian lebih awal dari rencana , karena tiang tersebut sudah siap dipancangkan”

Diwaktu yang sama , Dayang sumbi, dikamarnya tak henti-hentinya berdoa agar pembuatan perahu tersebut tidak akan selesai sampai waktunya, betapa tidak , kalau seandainya perahu tersebut diselesaikan oleh sangkuriang tepat pada waktunya , maka sangkuriang yang juga anak kandungnya , yang lahir dari rahimnya, akan mempersuntingkannya , ia akan melayaninya sebagai suami sepenuh hatinya, akan melahirkan anak anak dari anaknya sendiri, akan mendampingi anak kandungnya yang bersatus suaminya, setiap saat wajib memberikan kehangatan Cinta Asmara birahi kepada anak kandungnya sendiri walaupun perasaan cinta asmara birahi telah ia alami bersama sangkuriang dikamar ini karena ketik tahuannya. Perasaannya yang sangat galau, dilain saat bahwa dayang sumbi juga takut kehilangan Anaknya (Sangkuriang) lagi setelah diusirnya selama 10 tahun.

Tiba tiba bunyi petir mengelegar pertanda akan hujan..artinya matahari akan terbit tetapi pertandanya tidak akan tampak atau lebih jelasnya pembuatan Perahu sudah pasti akan selesai sebelum waktunya, Perasaan sangkuriang sangat bahagia, perasaan Dayang sumbi makin kacau , Duka, Bahagia, dosa bercampur jadi satu…

Sejenak kemudian terdengar ketukan pintu kamar dayang sumbi, lalu sangkuriang melangkah masuk menjumpainya , dengan senyum bahagia sangkuriang menghampiri calon isterinya, dikecupnya kening dayang sumbi sembari berkata ” Wahai kekasihku, calon isteriku, calaon ibu dari anak-anakku, mari kita songsong perahu pesananan Adinda , akan tampak dari jendela kamar adinda sebuah perahu yang megah , yang akan kita gunakan berbulan madu dan mencari ibunda yang entah dimana” , selesai berkata , sangkuriang memeluk pinggang calon isterinya bermaksud mengajak dayang sumbi mendekat jendela kamar melihat langsung persembahan sangkuriang, namun perasaan dayang sumbi yang seakan akan putus asa.. akan menghadapi masa depannya yang tidak menentu apakah sangat bahagia atau sangat mengerikan. Tak terasa tercetuslah isak tangis dayang sumbi , seluruh kekuatan yang telah dipersiapkan berpuluh-puluh tahun untuk menanti sang suami dan Anak Kandungnya , hilang begitu saja , ia hampir terjatuh , untung lengan sangkurian memeluknya lebih erat kemudian menyandarkannnya kedadanya sambil membopong calon isterinya ke arah jendela. Prasangka sangkuriang bahwa calon isterinya dayang sumbi , tidak dapat menahan haru dan bahagia, isak tangis bahagia, dan manja agar minta dipeluk dan dibopong. Setiba dekat cendela , tak sabar lagi sangkuriang mendorong keluar daun jendela agar terkuak lebih lebar , begitu daun jendela terbuka bersamaan hembusan angin malam menerpa kedua wajah sangkuriang dan dayang sumbi, terdengarlah kokok ayam jantang yang saling bersahutan menandakan fajar akan memancarkan cahaya menerangi cakrawala ini , dayang sumbi jatuh pingsan, sangkuriang sangat marah dan kecewa, para pembantu sangkuriang lari ketakutan kembali ke persembunyiannya meninggalkan pekerjaannya yang hampir selesai atau belum selesai, tanpa mengucapkan sepatah katapun digendongnya tubuh dayang sumbi ke pembaringan , kemudian berlari ke tempat pembuatan perahu tersebut. Karena tidak bisa menahan rasa malu dan kemarahan yang meluap-luap, maka segala ilmu dan kekuatan sangkuriang , ditendangnya perahu besar yang hampir selesai tersebut sehingga menggelinding jauh sekali dan menimpa bumi parahiayang dalam keadaan perahu terbalik…itulah gunung tangkuban perahu..

Dayang sumbi.. masih pingsan di pembaringannya telah kehilangan Sangkuriang yang sakti, Anak Kandungnya sekaligus calon suaminya.

Sangkuriang yang sakti karena malu menghilangkan diri bertapa entah dimana.

Petir yang menggelegar adalah pertanda kemarahan alam , marah kepada cinta asmara birahi yang telah mempermainkan manusia dan menggiring Ibu dan Anak keperbuatan dosa yang tak terampunkan, yang membangunkan semua mahluk bumi termasuk ayam jantan dihutan agar berkokok lebih awal.

bersambung …

Tag: , , ,

2 Tanggapan to “Kisah Cinta Anak dan Ibu (Tangkuban perahu)”

  1. jihan ahmad Says:

    bagus, tetapi ada bacaan yang kurang hurufnya
    tolong di perbaiki karna sayang cerita bagus kurang hurufnya
    itu saja yang saya sampaikan

    terima kasih
    atas ceritanya,……….

    wassalamu’alaikum wr,wb

  2. Rudi Says:

    bagus kisahnya, ikutan numpang baca.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: