Si Kebayan

by

Nenek Kebayan dan Anak Yatim Piatu

Dua kakak beradik, dua bocah perempuan, yang oleh kedua orang tuanya dipanggil “Tua” untuk anak yang tertua dan “Biak” untuk anak yang bungsu tiba-tiba menjadi yatim piatu. Kedua orang tua mereka meninggal karena penyakit. Padahal umur keduanya belum mencapai sepuluh tahun. Yang tertua berusia 9 tahun dan si Biak berumur 6 tahun. Mereka juga tidak mempunyai kerabat yang dapat merawat serta membesarkan mereka.

Beruntunglah di kampung itu hidup seorang nenek yang sudah sangat tua, Nenek Kebayan namanya. Nenek Kebayan juga hidup sebatang kara. Dia dipanggil “nenek punas”, artinya sebatang kara. Nenek Kebayan ini sangat baik hati, sangat penyayang dan cermat dalam hidupnya. Sejak kematian kedua orang tua mereka, kedua kakak-beradik, si Tua dan Biak diasuh nenek Kebayan di gubuknya yang kecil. Berkat kasih sayang nenek Kebayan, kedua kakak beradik merasa terhibur dan tidak kekurangan satu apapun….

Nenek Kebayan tidak hanya baik hati, tetapi dia juga seorang pendidik yang sangat teliti. Segala jenis pekerjaan diajarkannya kepada Tua dan Biak. Tentu saja semuanya diajarkan secara bertahap, cermat, pelan-pelan dan penuh kasih sayang.

Gubuk nenek Kebayan tidak berada di tengah-tengah kampung. Neken Kebayan selalu tinggal di ladang, di pinggir hutan. Ladang nenek Kebayan tidak lebar melainkan sangat kecil, hanya “selingkung Tapang” luasnya. Tapang adalah salah satu jenis pohon purba. Kalau pohonnya sudah tua, akar-akarnya akan menonjol di atas tanah seperti tembok. Dan jarak antara akar yang satu dengan yang lainnya bisa seluas lapangan Volley. Jadi ladang nenek Kebayan itu hanya selebar lapangan Volley itu, sebuah ladang yang sangat kecil.

“Nenek…, kok ladang nenek sangat kecil?” Tanya si Tua.

“Jangan bicara begitu, Cu. Pemali,” tegur nenek Kebayan.

Kebetulan saat itu musim mengetam padi. Jadi si Tua dan Biak ikut nenek Kebayan mengetam padi di ladang. Dan memang keajaiban terjadi. Setelah mereka mengetam padi di depan, di belakang mereka tumbuh lagi padi yang siap dipanen. Berhari-hari mereka hanya berputar-putar di situ memanen padi. Sampai lumbung mereka penuh. Meskipun ladang sangat kecil, namun hasil panen mereka berlimpah.

Ada kebiasaan dalam suku Dayak Suaid, setelah panen ada adat “makan padi bahu”, artinya makan nasi yang pertama dari beras yang baru dipanen. Adat “makan padi bahu” ini merupakan sebuah pesta kecil dalam keluarga.

“Ambil ayam di belakang pondok, cu. Potong satu, untuk kita makan padi bahu,” kata Nenek Kebayan pada si Tua.

Si Tua pergi ke belakang pondok, namun dia tidak melihat ada ayam di situ. Yang ada hanya burung “Nchiak”, yaitu burung kecil, sebesar burung pipit.

“Ayamnya mana, Nek?” tanya si Tua dari belakang pondok.”Di sini tidak ada ayam, cuma ada Nchiak.”

“Iya, itu. Ambil satu untuk dipotong.” Sahut Nenek Kebayan. Terus Nenek Kebayan memotong “ayam” itu.

“Bukankah itu terlalu kecil, Nek?” Tanya Biak ragu-ragu.

“Hush, jangan bicara begitu, Biak. Pemali,” Nenek Kebayan menegur Biak.

“Sekarang kamu cabuti bulunya, terus kamu potong-potong, ya” Nenek Kebayan memberi tugas pada si Biak.

Meskipun baru berumur enam tahun, si Biak sudah cekatan melakukannya. Di jerangnya air panas, terus disiraminya air panas itu ke “ayam” yang sudah di potong itu, lalu dicabutinya bulunya sampai bersih. Setelah itu “ayam” itu dibelahnya menjadi dua, dibersihkannya ususnya dan dipotong-potongnya. Keajaiban terjadi lagi. Daging ayam itu tak habis-habisnya dipotong, sampai dagingnya memenuhi bakul.

Sementara itu si Tua menanak nasi.

“Berasnya cukup secupak buah Kahui saja,” kata nenek Kebayan. Cupak buah Kahui adalah kulit buah pohon yang berbentuk kerang kecil, sekitar 3 jari lebarnya.

“Kenapa masaknya sedikit sekali, nek?” tanya si Tua heran.

“Hush, jangan bicara begitu. Pemali,” tegur nenek Kebayan.

Sampailah saat mereka makan. Nenek Kebayan menyendok nasi untuk kedua cucu kesayangannya. Diambilnya lauk dan sayur dan diberikannya pada ke dua cucunya. Mereka makan denga lahap.

Karena masih kecil, beberapa butir nasi jatuh dari piring si Biak. Melihat itu Nenek Kebayan menegur si Biak.

“Makan pelan-pelan, Cu. Dan hati-hati, nasinya jangan sampai jatuh berserakan. Pemali. Nasi itu ada “semengat”-nya . Semengat itu adalah roh padi. “Kalau nasinya berhamburan jatuh, nanti semengatnya tidak mau lagi hidup bersama kita,” kata nenek Kebayan mengajari ke dua cucunya. Mereka magut-magut, dan si Biak memungut nasi yang jatuh di lantai.

“Koh semengat….” gumamnya. Artinya, “Oh semengat padi, maafkan aku…”

Demikianlah mereka makan sampai kenyang, dan nasih serta lauk pauk masih bersisa.

Hari berlalu, demikianlah kedua bersaudara itu belajar hidup dari nenek Kebayan. Suatu hari, ketika mereka menampi beras, tanpa sengaja “capan” yaitu alat penampi terjatuh dari pondok, karena si Tua kurang hati-hati.

“Perlahan-lahan, Tua. Jangan sampai capan itu terjatuh seperti itu. Pemali.” Kata Nenek Kebayan.

“Kenapa semuanya pemali, nek?” tanya si Tua.

“Cu, sini kalian berdua…” Nenek Kebayan memeluk kedua cucunya.

“Semua yang ada di sekitar kita ini, tanah, pohon, burung, capan, dan lain-lainnya itu sama seperti kita. Mereka ada Semengatnya (rohnya). Kalau kalian bersikap semena-mena terhadap mereka, semengat mereka akan pergi dari kalian. Namun kalau kalian bersikap baik dan ramah pada mereka, mereka akan selalu bersama kalian.

Kalian suda belajar, bahwa ladang kita sekecil ini bisa menghasilkan panenan yang berlimpah, cukup untuk kita bertiga makan setahun. Lalu kalian sudah melihat juga, bahwa seekor burung Nchiak cukup dimakan kita bertiga. Demikian juga dari beras secupak buah Kahui yang dimasak cukup kita makan bertiga.

Artinya apa itu?

Artinya kalau kalian ramah, baik dan bersahabat dengan alam di sekitar kita, kita tidak akan kekurangan apa-apa. Jangan pernah khawatir akan sesuatu yang sedikit, karena kalau kamu menghargainya, kamu akan selalu tercukupi….” demikian nenek Kebayan mengajari ke dua cucunya.

“Oh… jadi begitu ya nek. Jadi kita harus baik pada alam di sekitar kita…” kata si Tua magut-magut.

Begitulah hari berganti dan tahun berlalu, si Tua dan Biak bertumbuh dan belajar dalam kasih sayang dan kebijaksanaan. Mereka makin besar dan kuat, juga semakin sayang pada alam dan neneknya yang semakin tua. Kini mereka sudah menjadi gadis remaja yang jelita dan bijaksana.

sumber :heartofborneo

Baca juga Batu Kebayan , Hikayat si Miskin

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: