Bathara Kala

by

Bathara Kala – Cerita Rakyat dari Jawa Tengah

Hyang Girinata ingin mengelilingi dunia bersama istrinya. Mereka naik di atas punggung lembu Andini, terbang di angkasa. Mereka telah selesai mengelilingi pulau Jawa, lalu terbang diatas samodera. Kebetulan waktu matahari terbenam, waktu senja kala, sinar matahari merah menyinari air samudera, menimbulkan pandangan indah di lautan. 

Hyang Guru memandang keindahan samudera, bimbang ragu hatinya, bangkit asmaranya, karena sejak kelahiran Wisnu, jauh dari rindu asmara. Sejak itulah baru bangkit keinginan untuk berwawan asmara dengan istrinya. Tetapi sayang, Dewi Uma tiada menanggapinya, sebab rasa hati masih jauh untuk bersenggama. Sang Hyang Guru berkeinginan keras, sang istri dipegang lalu dipangkunya serta akan digaulinya. Sang istri menolak dan mengelak serta berkata kasar. Dikatanya Hyang Guru terlalu kasar seperti raksasa, berbuat di sembarang tempat diatas punggung lembu.
Sang istri mengharap agar Hyang Guru sabar, karena kata Dewi Uma itu seketika Hyang Guru bertaring seperti raksasa. Kama Hyang Girinata terlanjur keluar dan jatuh di samudera, menggelegar suaranya. Air samudera berdegur hebat, membual-bual seperti di aduk-aduk. Sang Hyang Guru merasa malu, bercampur marah kepada sang istri dan segera mereka kembali.
Air samudera masih hebat membual-bual, gegap gempita suaranya dan menggemparkan para dewa. Surga bagai digunjang, lalu disuruh carai penyebabnya. Segera para dewa berangkat dan cepat jalannya. Mereka telah tiba di sumber huru-hara, terlihat dari dasar laut cahaya seperti matahari sedang memancarakan sinar panasnya. Setelah jelas mereka kembali, dan melaporkan bahwa yang menimbulkan huru-hara di dasar laut tempat asalnya. Mereka tidak dapat mendekat, karena panas sinarnya seperti panas api. Sang Hyang Guru berkata, bahwa yang tampak bercahaya itu bernama Kamasalah.
Para dewa disuruh kembali, siap dengan perlengkapan perang. Mereka disuruh memusnahkan Kamasalah yang bernyala-nyala di samudera itu dengan menimbunkan senjata kepadanya. Para dewa segera berangkat, siap dengan senjata perang. Setiba di tempat yang bernyala-nyala itu, para dewa bersama-sama melepaskan panah. Seperti hujan jatuhnya, senjata gada, denda, bedama, gandi, kunta, cakra, candrasa, kapak, limpung, mosala, lori, alugoro jatuh di dasar laut tempat asal cahaya yang bernyala-nyala itu. Samudera bagai diaduk-aduk geloranya. Kamasalah yang telah tertimbun panah dan senjata tidak reda, bahkan bertambah besar. Setelah hilang yang bernyala-nyala, jadilah raksasa segunung besarnya. Semua senjata membentuk tubuh Kamasalah. Denda menjadi kepala, gada menjadi leher, limpung menjadi hidung, serta pipi dan pelipis, cakra menjadi mata, bindi menjadi paha, nenggala menjadi bahu, trisula menjadi bahu kiri, gada menkadi dada, semua anak panah menjadi bulu dan gigi. Raksasa tersebut sekonyong-konyong datang, berdiri tegak seprti gunung di atas samudera. Segera berliuk badan, bersin, bagai halilintar suaranya, dehem bagai guntur, lalu keluar dari samudera. Mendekati para dewa seraya memekik, berkata menanyakan ayahnya. Para dewa takut, mereka lari tunggang langgang, Kamasalah mengikutinya.
Para dewa telah tiba dihadapan Sang Jagadnata, berkata gagap bahwa Kamasalah tidak bisa dimusnahkan dengan senjata, bahkan menjadi raksasa segunung besarnya, wajahnya menakutkan keluar dari dalam samudera, berseru bertanya ayahnya, seraya mengerang bagai halilintar. Oleh karena itu para dewa tercerai berai mereka takut. Belum selesai dewa berkata, tiba-tiba Kamasalah datang, para dewa sembunyi di belakang. Kamasalah memandangnya, Hyang Guru tetap duduk, tidak bergerak dari tempat. Kamasalah mendekat, tiba di depan Hyang Guru, lalu duduk tegak bertanya dengan suara menggelegar. Hyang Guru ditanya namannya, Hyang Guru menjawab bahwa ia raja dunia pelindung semua yang hidup, bernama Sang Hyang Jagadnata. Kamasalah berkata, bila sang Hyang Jagadnata pelindung dunia mesti tahu yang menganakkan dia dan tahu tempat tinggalnya. Sang Hyang Jagadnata mengaku tahu segala pertanyaan Kamasalah dan sanggup menunjukkan tempat tinggal ayahnya, dengan syarat Kamasalah mau menghormat , merunduk mencium kakinya. Kamasalah sanggup, tetapi bila Sang Hyang Jagadnata membohonginya akan dimakannya. Sang Hyang Jagadnata sanggup, Kamasalah disuruh menghormatnya. Kamasalah menghormat, Sang Hyang Jagadnata mencabut rambut pelipis kanan kiri. Kamasalah meronta dan menengadah, cepat-cepat Sang Hyang Jagadnata memegang kedua taring dan dipotong ujungnya, lalu ditekan lidahnya sehingga semua bisa keluar mulutnya. Kamasalah dilempar jatuh tertunduk tanpa daya, pucuk taring bersama bisa diciptanya, ujung taring kanan menjadi kunta, sedang ujung taring kiri menjadi pasupati dan rambut menjadi tali busar panah. Kemudian Sang Hyang Guru berkata, bahwa Kamasalah adalah puteranya dan diberi nama Batara Kala.
Batara Kala lalu disuruh bertempat tinggal di Nusakambangan, serta merajai makhluk jahat dan jin yang tinggal di pulau Jawa. Kamasalah terima kasih atas cinta kasih Sang Hyang Guru, akan menurut segala perintah kemudian minta catu yang boleh menjadi makannya. Sang Hyang Guru memberi catu enampuluh jenis manusia, lalu disebutkan perinciannya, enampuluh jenis manusia terdiri dari anak dan orang sukerta. Batara Kala mendengar jenis manusia yang disebut oleh Sang Hyang Guru dengan senang hatinya, lalu mohon diri serta diijinkannya, Batara Kala menghormat, lalu berangkat ke Nusakambangan, Batara Kala bertempat di Nusakambangan, makhluk jahat dan jin mengaku Batara Kala sebagai rajanya.
Sepeninggalan Batara Kala, Sang Hyang Guru kembali ke surga, kemarahan terhadap Dewi Uma bangkit kembali. Sebab ia bertaring dari akibat kata-kata istrinya, Dewi Uma menyonsong kedatangan suaminya, segera menghormat di hadapan Sang Hyang Pramesti. Seketika dipegang rambutnya, ditarik sehingga terurai sanggulnya. Dewi Uma berteriak keras, berumbai-umbai rambutnya. Dewi Uma dipegang kedua kakinya, dibaliknya kepala dibawah. Dengan marah Sang Hyang Guru berkata, cantik rupawan Dewi Uma tetapi rambut berumbai-umbai bagai raksasi, jerit suara sebagai pekik raksasa pula. Seketika Dewi Uma berubah berujud raksasi. Dewi Uma dilepas, maka Dewi Uma pun berteriak sedih, datang menghormat Sang Hyang Guru seraya mohon maaf dan bertobat. Sang Hyang Guru terharu dan menaruh belas kasihan. Sang Hyang Guru berkata lembut, bahwa telah menjadi takdir. Jasmani Dewi Uma berujud raksasi, tetapi sukma tetap sukma Dewi Uma. Dewi Uma yang berujud raksasi akan menjadi istri Batar Kala. Kemudian Sang Hyang Guru memasukkan sukma ke tubuh Dewi Laksmi istri uwaknya yang bernama Resi Catur Kanaka, anak jin Lama raja jin yang berujud raksasi. Dewi Laksmi canti rupawan, secantik Dewi Uma yang telah berujud raksasi, lalu diberi nama Batari Durga dan diberikan kepada Batara Kala. Batara Kala dan Batari Durga hidup bersama di Nusakambangan.
Sang Hyang Girinata telah limabelas tahun tinggal di Pulau Dwipa, kemudian kembali ke tanah Hindi bersama para dewa. Setiba dibukit Tengguru mereka mendirikan Kahyangan kemudian membangun Kahyangan di tanah selong. Resi Catur Kanaka yang istrinya telah diambil Sang Hyang Guru menyerah kepada nasibnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: