Archive for the ‘Budaya’ Category

Asal Mula Tari Patuddu

12 November 2010

Asal-Mula Tari Patuddu

Sulawesi Barat atau disingkat Sul-Bar termasuk provinsi yang masih tergolong baru di Pulau Sulawesi, Indonesia. Provinsi yang dibentuk pada tanggal 5 Oktober ini sebagian besar dihuni oleh suku Mandar (49,15%) dibanding dengan suku-bangsa lainnya seperti Toraja (13,95%), Bugis (10,79%), Jawa (5,38%), Makassar (1,59%) dan lainnya (19,15%). Maka tidak heran jika adat dan tradisi suku Mandar lebih berkembang di daerah ini. Salah satu tradisi orang Mandar yang sangat terkenal adalah tradisi penjemputan tamu-tamu kehormatan baik dari dalam maupun luar negeri.

Penyambutan tamu kehormatan tersebut sedikit berbeda dari daerah lainnya. Para tamu kehormatan tidak hanya disambut dengan pagar ayu atau pengalungan bunga, tetapi juga dengan Tari Patuddu. Zaman sekarang, tarian ini biasanya dimainkan oleh anak-anak Sekolah Dasar (SD) dengan menggunakan alat tombak dan perisai yang kemudian diiringi irama gendang. Oleh karena itu, Tari Patuddu yang memperagakan tombak dan perisai ini disebut juga tari perang. Disebut demikian karena sejarah tarian ini memang untuk menyambut balatentara Kerajaan Balanipa yang baru saja pulang dari berperang.

Menurut sebagian masyarakat setempat, Tari Patuddu ini lahir karena sering terjadi huru-hara dan peperangan antara balatentara Kerajaan Balanipa dan Kerajaan Passokorang pada masa lalu. Setiap kali pasukan perang pulang, warga kampung melakukan penyambutan dengan tarian Patuddu. Tarian ini menyiratkan makna, “Telah datang para pejuang dan pahlawan negeri,” sehingga tari Patuddu cocok dipentaskan untuk menyambut para tamu istimewa hingga saat ini.

Namun, ada versi lain yang diceritakan dalam sebuah cerita rakyat terkait dengan asal-mula tari Patuddu. Konon, pada zaman dahulu kala, di sebuah daerah pegunungan di Sulawesi Selatan (kini Sulawesi Barat), hidup seorang Anak Raja bersama hambanya. Suatu waktu, Anak Raja itu ditimpa sebuah musibah. Bunga-bunga dan buah-buahan di tamannya hilang entah ke mana dan tidak tahu siapa yang mengambilnya. Ia pun berniat untuk mencari tahu siapa pencurinya. Dapatkah Anak Raja itu mengetahui dan menangkap si pencuri? Siapa sebenarnya yang telah mencuri buah dan bunga-bunganya tersebut? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisah selengkapnya dalam cerita Legenda Tari Patuddu berikut ini!

Tradisi ROYONG

4 Oktober 2010

Tradisi Lisan “ROYONG” dalam Masyarakat Makassar
Sastra lisan yang banyak tersebar di Nusantara menjadi kekayaan budaya bangsa Indonesia yang senantiasa harus dilestarikan dan kembangkan. Sastra lisan tersebut telah membuktikan dirinya sebagai media sekaligus sebagai guru masyarakat yang memberikan pengajaran etika dan moral kepada masyarakat pendukungnya. Tuturan-tuturan tersebut telah ikut membentuk kepribadian manusia-manusia Indonesia menjadi kuat dan tangguh.
Demikian halnya di Sulawesi Selatan khususnya dalam masyarakat Etnik Makassar yang mendiami pesisir pantai jazirah selatan Pulau Sulawesi. Masyarakat Makassar mengenal berbagai sastra Lisan baik yang berbentuk prosa maupun puisi. Sastra lisan yang baik dalam bentuk prosa maupun puisi dituturkan dengan jalan dinyanyikan atau disenandungkan dengan diiringi oleh berbagai macam instrumen/ bunyi-bunyian dan alat musik. Jenis sastra yang dituturkan selain dinamai sesuai dengan alat musik yang mengiringinya juga ia diberinama tersendiri sesuai nama sastra tersebut. Beberapa sastra prosa dinamakan sinriliq dan kacaping, karena sastra ini dituturkan dengan jalan dinyanyikan karena diiringi oleh alat rebab (sinriliq/kesoq-kesoq) dan kecapi. Sastra puisi diberi nama kelong yang seara harfiah diterjemahkan sebagai nyanyian. Namun pada dasarnya kelong adalah karya sastra yang berbentuk larik-larik kelompok kata yang berpola dan dibawakan secara bernyanyi atau bersenandung. Salah satu karya sastra yang berbentuk puisi (kelong) adalah Royong.
Royong adalah adalah sastra lisan dalam ritus upacara adat Makassar. Tradisi lisan ini biasanya dipentaskan pada upacara adat perkawinan, sunatan, khitanan, upacara akil balik dengan memakaikan baju adat/ baju bodo kepada anak gadis (nipasori baju), dan juga pada upacara ritual kelahiran (aqtompoloq) dan upacara penyembuhan penyakit cacar (tukkusiang).
Sastra lisan Royong dewasa ini mengalami masa menghampiri kepunahan. Selain ia kehilangan tradisinya lantaran para bangsawan kerajaan Gowa tidak lagi melaksanakan upacara-upara daur hidup secara tradisional akan tetapi melaksanakannya dengan sederhana, dan mengikuti ajaran syariat Islam yang tidak lagi membutuhkan kehadiran royong sebagai media permohonan doa, sehingga secara perlahan-lahan sastra Royong sangat jarang dituturkan lagi. Juga pendukung/pelaku royong sudah lanjut usia. Rata-rata usia paroyong¬¬ sekarang ini di atas 70 tahun dan hanya mewariskan kepada beberapa orang generasi muda. Hal inilah menggugah perhatian kami untuk melakukan penelitian/perekaman agar sastra lisan ini dapat dipertahankan keberlanjutannya dan dapat dikembangkan sesuai kebutuhan masyarakatnya dewasa ini (Solihing, 2004; 5) .
Tradisi Lisan Royong sangat terkait dengan strafifikasi sosial masyarakat etnik Makassar. Dalam masyarakat Makassar dikenal tingkatan masyararat antara lain:
1). kelas atas adalah keluarga raja yang berkuasa (Sombaya),
2). bangsawan (karaeng),
3). masyarakat biasa yang bebas dari perbudakan (Tomaradeka),
4). budak (ata).
Adapun tingkatan royong dikenal adanya:
1. Royong Bajo yang digelar untuk kalangan/ keluarga raja (sombaya), b.
2. Royong Karaeng untuk kalangan bangsawan
3. Royong Daeng untuk kalangan tomaradeka
Sementara kalangan budak tidak ditemukan jenis royong untuk mereka.

Budaya yang dicuri

26 Agustus 2009

Budaya yang dicuri, lalu siapa pencurinya??, dan siapakan yang dicuri budayanya??. atau sejak kapan budaya Anu dimiliki oleh si Anu dan apa yang harus dibuat oleh si Anu untuk mempertahankan Budaya Anu.?? (more…)

Budaya Indonesia Timur

14 Mei 2009

Budaya Indonesia Timur – Budaya merupakan hasil karya atau peradaban manusia yang tidak kunjung usai dan terus berkembang sesuai dengan tuntutan masyarakat. Oleh sebab itu dalam perjalanannya dimana nilai-nilai substansial dalam kebudayaan bisa berubah pada skala kecil maupun besar.

Bahkan jika kebudayaan tidak dipelihara dengan baik oleh segenap entitas yang seharusnya bertanggung jawab terhadap kelangsungan nilai yang terkandung di dalamnya. Maka melihat hal ini budaya akan punah atau digantikan dengan embrio kultural yang berpotensi merugikan.

Untuk mempertahankan budaya sebagai sumber energi positif  bukan pekerjaan mudah. Terlebih lagi di lingkungan masyarakat heterogen yang memiliki keanekaragaman karakter setiap kelompok.

Maka dari itu untuk memelihara dan menjalankan budaya harus dilaksanakan dengan bersungguh-sungguh, kemudian berpijak kepada empati dan toleransi yang tidak memunafikkan eksistensi kelompok lain dengan kultur berbeda.

Untuk itu sangat penting membangun komunikasi dalam kebhinekaan. Maka dengan etika dan strategi komunikasi yang tidak menyinggung nilai masyarakat majemuk, maka keanekaragaman di Indonesia Timur khusunya , di Republik ini umumnya tetap terjaga dan upaya untuk mencapai kesejahteraan menjadi lebih terbuka.

Baca juga Budaya Indonesia yang :

  1. Hilang
  2. Dilupakan
  3. Dicuri
  4. Hampir punah
  5. Era Globalisasi

Budaya Indonesia Timur (Teks dan Gambar)

3 Mei 2009

cropped-indotim.jpg64gyw3cbzj

Budaya Indonesia Timur (Pengantar Blog’s)
Media komunikasi anak manusia yang gemar cerita pendek  (Cerpen)tentang Hikayat, Legenda, Riwayat ,Kisah perjalanan, Pantun dan petuah dalam kata -kata mutiara serta Mencari kebenaran jawaban teka teki Alam Semesta dan Tukar menukar informasi (Rumah Adat, Tarian, Musik, Alat Musik, Lagu, Gambar, Patung, Pakaian, Makanan khas, Sastra/Tulisan) dan Konspirasi yang semua berkaitan dengan Budaya Indonesia , khususnya Budaya Indonesia Timur  (harap dibaca Budaya di Indonesia bahagian Timur), baik diera globalisasi, yang terlupakan, yang hilang, yang hampir punah maupun yang dicuri.

News……

Referensi Blog : Budaya Indonesia

ASR Search Engine