Pahlawan Daun Cabai

Pahlawan Daun Cabai       
Written by Erlita Pratiwi    

Jalan-jalan ke pematang sawah dan kebun? Di pagi seperti ini? Pasti becek dan licin. Belum lagi udara pegunungan yang menggigilkan tubuh. Brrr.. Lebih enak melanjutkan tidur sambil berselimut.

Kemarin sore Shasa baru saja tiba di rumah Yuyut. Mumpung hari senin besok tanggal merah, mama mengajak papa dan Shasa mengunjungi Yuyut yang tinggal di kaki Gunung. Yuyut itu panggilan sayang Shasa untuk kakek mama. Usianya sudah 85 tahun.

Pagi ini, matahari masih malu-malu menampakkan sinarnya. Malas rasanya meninggalkan kehangatan selimut di tempat tidur. Namun Iyan, sepupunya, mengajaknya menikmati suasana desa di pagi hari. Walaupun awalnya segan, akhirnya Shasa mengiyakan ajakan Iyan. Mumpung sedang berlibur di desa, kapan lagi bisa menikmati indahnya pagi dengan menyusuri pematang sawah dan kebun?

Ditemuinya mama yang sedang menyiapkan sarapan. Setelah mendapat ijin, Shasa buru-buru mengganti bajunya dengan celana panjang dan kaos lengan panjang untuk menangkal udara pagi yang dingin

Bertiga mereka menyusuri jalan desa menuju pematang sawah. Delu berjalan paling depan. Shasa memandang sekelilingnya dengan kagum. Hamparan padi tampak seperti permadani berwarna hijau. Dari kejauhan terdengar kambing-kambing mengembik di dalam kandangnya. Shasa menghirup nafas dalam-dalam. Ahhh.. udara pagi di desa begitu segar. Gunung Ciremai berdiri dengan gagahnya. Bersih. Tanpa ada bagian yang tertutup awan.

“Hei.. jalannya jangan cepat-cepat dong,” seru Shasa ketika dilihatnya Delu sudah jauh meninggalkan dirinya. Dipercepatnya langkahnya. Uhh.. ternyata tidak mudah berjalan cepat di pematang sawah.

Iyan yang berjalan di belakang Shasa tertawa mendengarnya.

“Kamu terbiasa berjalan di jalanan beraspal sih,” ledek Delu sambil menghentikan langkahnya.

Shasa tidak menggubris ledekan itu. Ia sibuk berkonsentrasi dan menjaga keseimbangan tubuhnya. Beberapa kali Shasa nyaris terpeleset. Untung dengan sigap Iyan sempat memeganginya hingga ia tidak sampai terperosok ke dalam sawah.

“Berhenti dulu dong,” pinta Shasa dengan nafas sedkit terengah-engah. Ia langsung menjatuhkan diri duduk di sebuah batu besar yang ada di dekatnya. Ia yang awalnya kedinginan kini malah berkeringat. Akhirnya digulungnya lengan bajunya. Ahh.. begini lebih nyaman, katanya dalam hati. Setelah beristirahat sejenak mereka melanjutkan perjalanan.

Mereka kini berbelok menyusuri jalan kecil yang melintasi kebun. Kata Iyan, kebun ini milik Yuyut. Sesekali mereka berhenti. Delu dan Iyan bergantian menerangkan nama-nama pohon yang ada di kebun Yuyut. Ada pohon Cengkeh, Melinjo, Rambutan, Durian dan Nangka. Mereka juga memunguti bunga cengkeh yang berjatuhan. Hmm.. Shasa baru tahu rupa pohon cengkeh. Delu juga menunjukkan Cengkeh yang sudah bisa dipetik.

“Nah, yang itu namanya pohon Pisang, Sha,” kata Delu sambil menunjuk sebuah pohon.

“Yeee.. itu sih aku juga tahu,” jawab Shasa dongkol. Bibirnya yang cemberut membuat pipinya menggembung.

“Kirain kamu belum pernah lihat pohon pisang,” Delu berkata dengan kalem. “Biasanya anak kota itu kalau ke desa jadi tulalit dan norak. Padi dikira rumput. Orang sedang memandikan kerbau jadi tontonan. Malah ingin ikut memandikan kerbau. Melihat sungai jernih dengan batu-batu bersembulan langsung histeris dan turun ke sungai bermain air.”

Shasa meringis mendengarnya. Benar juga yang dikatakan Delu. Tiba-tiba Shasa mendesis sambil menggaruk-garuk tangannya yang tiba-tiba terasa gatal dan panas. Dilihatnya bentol-bentol merah bermunculan.

“Aduh.. tanganku kenapa nih?” tanya Shasa panik.

“Sepertinya kamu terkena ulat,” kata Iyan yang berada di dekatnya.

“Ulat?! Hiii…” Shasa bergidik geli. Apalagi ketika dilihatnya seekor ulat Bulu yang berada di daun Jambu di dekat tempatnya berdiri. Ia langsung melompat-lompat kegelian.

“Jangan digaruk, Sha, nanti semakin gatal,” kata Iyang melihat jari-jari Shasa tak berhenti bergerak.

“Aduh.. gatal sekali, aku tidak tahan,” keluh Shasa.

Delu yang tadi menghilang muncul dan menghampiri mereka. Tangannya meremas-remas segenggam daun.

“Pakai ini supaya tidak gatal,” kata Delu.

“Apaan tuh?” tanya Shasa tidak mengerti.

“Daun Cabai,” jawab Delu.

“Daun Cabai itu bisa meredakan gatal-gatalmu,” Iyan membantu menerangkan. Daun Cabai yang sudah hancur teremas-remas itu kemudian dibalurkan di bagian tangan Shasa yang berbentol-bentol merah. Tak lama Shasa merasa rasa gatal yang tadi menyerang berangsur-angsur menghilang.

“Bagaimana?” tanya Delu.

“Sudah tidak gatal seperti tadi,” sahut Shasa lega. “Terima kasih ya, kamu hebat deh bisa menyembuhkan gatal-gatal,” katanya lagi.

“Ah, biasa saja. Semua anak desa sini juga bisa seperti itu,” sahut Delu kalem. Namun tak urung wajahnya tersipu.

Mereka kemudian berjalan beriringan menuju rumah Yuyut. Wah.. Ternyata alam pedesaan bukan hanya menyimpan keindahan pemandangan tetapi juga banyak pengetahuan dan hal-hal menarik lainnya.

Mama yang menyambut kedatangan mereka terkejut melihat lengan Shasa yang masih menyisakan bentol merah.

“Wah, kalau begitu pagi ini Delu sudah menjadi pahlawan yang menyelamatkan Shasa dari bentol-bentol akibat ulat bulu,” komentar mama setelah menyimak cerita Shasa. Wajah Delu kembali bersemu merah.

“Iya, pahlawan daun Cabai karena memakai ramuan daun Cabai untuk menyembuhkan gatal-gatalku,” celetuk Shasa. Mama dan Iyan tertawa mendengarnya. Ha.. Ha.. Ha..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: