Burung Cengnge

Cengnge` adalah nama seekor burung bersuara merdu dan berbulu indah yang terdapat di daerah Mandar, Sulawesi Barat, Indonesia. Di kalangan masyarakat Mandar, ada sebuah cerita menarik yang mengisahkan tentang seorang gadis cantik yang menjelma menjadi seekor burung Cengnge`. Mengapa gadis cantik itu menjelma menjadi burung Cengnge`? Kisah menarik ini dapat Anda ikuti dalam cerita Cengnge` berikut ini.

* * *

Alkisah, di sebuah kampung di daerah Mandar, Sulawesi Barat, hidup sepasang suami-istri yang miskin dan tidak mempunyai anak. Hampir setiap malam mereka berdoa agar dikaruniai seorang anak, namun Tuhan belum juga mengambulkan doa mereka. Meski demikian, sepasang suami-istri itu tidak pernah berputus asa untuk terus berdoa kepada Tuhan.

“Ya Tuhan! Jika Engkau berkenan mengaruniakan kami seorang anak laki-laki, hamba bersedia membuatkannya ayunan dari emas,” doa sang Suami.

Sebulan kemudian, sang Istri pun hamil. Alangkah senang dan bahagianya sang Suami mengetahui hal itu. Namun hatinya juga bingung, karena ia harus memenuhi janjinya untuk membuatkan anaknya ayunan dari emas. Padahal, kehidupannya sendiri tidak berkecukupan. Akhirnya, ia pun memutuskan untuk pergi merantau ke Pulau Jawa.

“Dik, Abang akan merantau ke Pulau Jawa, agar dapat membuatkan ayunan dari emas untuk anak kita,” kata sang Suami kepada istrinya.

“Baik, Bang! Jika sudah berhasil, segeralah pulang,” pinta sang Istri.

“Iya, Abang berjanji segera kembali setelah kelahiran anak kita. Abang akan membawakan anak kita ayunan dari emas,” jawab sang Suami.

Keesokan harinya, sang Suami pun bersiap-siap untuk berangkat ke Pulau Jawa dengan menumpang kapal besar yang sedang berlabuh di pelabuhan Teluk Mandar. Namun, sebelum meninggalkan rumahnya, ia berpesan kepada istrinya.

“Dik, jika Adik melahirkan anak laki-laki, tolong dirawat dengan baik. Tapi, jika anak perempuan, segeralah Adik membunuhnya,” pesan sang Suami lalu bergegas pergi tanpa memberikan alasan mengapa ia tidak menyukai anak perempuan.

Alangkah terkejutnya sang Istri mendengar permintaan suaminya. Ia baru akan menanyakan hal itu, tetapi suaminya sudah hilang dari pandangannya. Dengan perasaan sedih dan pilu, ia pun kembali masuk ke rumahnya sambil mengelus-elus perutnya. Setiap malam ia sangat sulit memejamkan matanya karena memikirkan permintaan suaminya. Sebagai seorang ibu, tentu ia tidak tega membunuh darah dagingnya sendiri.

Beberapa bulan kemudian, sang Istri melahirkan seorang bayi perempuan yang cantik jelita. Hatinya gembira bercampur sedih. Ia gembira karena telah melahirkan seorang anak yang sudah lama ia idam-idamkan. Namun ia juga sedih, karena harus segera membunuh bayinya itu. Akhirnya, ia memutuskan untuk menitipkan bayinya kepada keluarganya yang tinggal di sebuah kampung yang letaknya cukup jauh.

Sepulang dari rumah keluarganya, sang Istri segera menyembelih seekor ayam jantan lalu menguburnya di belakang rumahnya. Ia melakukan hal itu untuk meyakinkan suaminya, bahwa ia benar-benar sudah membunuh anak perempuan mereka yang baru lahir. Agar tidak menimbulkan kecurigaan, sang Istri mengoleskan darah ayam pada batu nisan kuburan itu.

Beberapa hari setelah kelahiran bayinya, sang Suami pun kembali dari perantauan. Di punggungnya tergantung beberapa tas yang berisi perlengkapan bayi laki-laki. Tangannya menjinjing seperangkat ayunan bayi dari emas.

“Dik…! Abang pulang…!” teriak sang Suami sambil mengetuk pintu rumahnya yang tertutup rapat.

Mendengar suara itu, sang Istri pun segera membuka pintu untuk menyambut kedatangan suaminya.

“Mana anak kita? Kenapa Abang tidak mendengar suara bayi?” tanya sang Suami sudah tidak sabar ingin menimang anaknya.

“Maaf, Bang! Anak kita perempuan. Sesuai dengan pesan Abang, anak kita sudah Adik bunuh dan menguburnya di belakang rumah,” jawab sang Istri.

Alangkah terkejutnya sang Suami mendengar ucapan istrinya. Tanpa disadarinya, ayunan emas di genggaman dan tas-tas di punggungnya terjatuh seketika. Seluruh badannya tiba-tiba terasa lemas. Ia sangat kecewa karena istrinya melahirkan seorang anak perempuan, sementara ia sendiri tidak menyukainya. Untuk membuktikan ucapan istrinya, ia pun segera ke belakang rumahnya untuk melihat kuburan putrinya itu. Ternyata benar, di belakang rumahnya terdapat tumpukan galian tanah berukuran kecil dan di atasnya terdapat sebuah batu nisan dengan bercak darah. Tanpa rasa curiga sedikit pun, sang Suami percaya saja bahwa isi kuburan itu adalah putrinya.

Sejak itu, sang Suami selalu tampak murung dan sedih. Ia seakan-akan tidak memiliki gairah dan semangat untuk hidup. Ia selalu gelisah, entah kapan ia akan memiliki anak laki-laki. Sementara sang Istri tetap bersikap ceria, karena ia tahu bahwa anaknya masih hidup. Meski demikian, ia tidak terlalu menampakkan keceriaannya, agar tidak menimbulkan kecurigaan pada suaminya. Setiap kali melihat suaminya duduk termenung seorang diri, ia senantiasa menghiburnya.

“Sudahlah, Bang! Ini semua kehendak Tuhan. Kita hanya bisa berusaha dan berdoa. Lupakanlah semua kejadian ini!” bujuk sang Istri.

Setelah berkali-kali dibujuk, akhirnya sang Suami kembali bersemangat. Siang hari ia bekerja seperti biasanya, dan pada malam harinya ia terus berdoa agar kembali dikaruniai seorang anak laki-laki.

Waktu terus berjalan. Bayi perempuan yang dititipkan sang Ibu telah tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik jelita. Kini, ia sudah mengetahui keradaan kedua orangtuanya dan berkeinginan untuk menemui mereka. Setelah mandi di sungai dan berdandan rapi, gadis itu memanggil seluruh burung peliharaannya. Ia ingin menjelmakan dirinya menjadi seekor burung agar dapat dengan mudah mencari orangtuanya. Namun, ia bingung ingin menjadi burung apa, karena ia memiliki beberapa jenis burung peliharaan.

Setelah seluruh burung peliharaannya berkumpul, ia pun menjatuhkan pilihannya pada burung Cengnge`. Ia memilih burung Cengnge` karena selain dapat terbang tinggi, juga memiliki suara merdu dan bulu yang sangat indah.

Akhirnya, gadis itu memilih menjadi burung Cengge`, sehingga ia dapat terbang dengan leluasa di udara. Setelah berhari-hari terbang ke sana kemari, akhirnya ia pun menemukan keberadaan kedua orangtuanya. Ia berputar-putar di atas bubungan atap rumah ayah dan ibunya sambil bernyanyi:

“Cengge`….Cengge`….inilah aku yang terbuang, terbuang oleh orang tuaku sendiri. Kini aku sudah mengerti siapa orang tuaku, meskipun tidak mungkin kembali kepadanya…”

Mendengar suara nyanyian itu, kedua orangtua Cengnge` yang sedang asyik beristirahat segera bangkit dan keluar dari dalam rumah. Alangkah terkejutnya mereka saat melihat seekor burung Cengnge` sedang terbang berputar-putar sambil bernyanyi. Belum sempat mereka berkata apa-apa, Cengnge` berpesan kepada mereka sebelum ia pergi.

“Hai… orangtuaku, kedatangan Ananda kemari hanya ingin berpamitan. Ananda ingin pergi ke Tanah Jawa. Tak ada gunanya Ananda tinggal bersama kalian, karena kehadiran Ananda tidak dibutuhkan,” kata Cengnge` lalu terbang pergi tinggi ke udara meninggalkan kedua orangtuanya.

Akhirnya, rahasia sang Istri terbongkar juga di hadapan sang Suami. Sang Istri pun menceritakan semuanya lalu meminta maaf kepada suaminya, karena tidak berterus terang. Sang suami pun merasa menyesal karena menyuruh istrinya untuk membunuh anak perempuan mereka. Namun apa hendak dibuat, semuanya sudah terjadi. Sang Anak pun telah pergi meninggalkan mereka.

Sementara itu, Cengnge` terus terbang menuju ke Tanah Jawa. Setelah berhari-hari menempuh perjalanan di udara, sampailah ia di sebuah lapangan luas. Orang Jawa menyebutnya alun-alun. Di tengah alun-alun itu terdapat beberapa batang pohon beringin yang tumbuh subur dan rindang. Cengnge` kemudian terbang rendah dan bertengger di atas salah satu pohon beringin tersebut. Di atas pohon itu, Cengnge` terbang dari satu dahan ke dahan yang lain sambil bernyanyi.

“Cengnge`….Cengnge`… Cengnge`….!!!”

Tanpa disadarinya, seorang pemuda tampan sedang memerhatikannya. Ia adalah putra Raja Jawa. Rupanya, ia sangat tertarik melihat bulu dan mendengar suara merdu Cengnge`.

“Waaah… baru kali ini aku menemukan burung sebagus itu. Suaranya merdu dan bulunya pun sangat indah,” ucap putra raja dengan takjub.

Putra Raja Jawa itu ingin sekali memiliki burung Cengnge` itu. Ia pun segera memerintahkan seorang pengawalnya untuk menangkapnya. Baru pengawal itu akan memanjat pohon beringin tempat Cengnge` bertengger, tiba-tiba Cengnge` kembali bernyanyi.

“Cengnge`… aku adalah burung Cengnge` dari Mandar. Aku adalah anak rantau yang terbuang oleh kedua orangtuaku…,” kata Cengnge` dalam lagunya.

Mendengar suara merdu Cengnge` itu, putra raja semakin penasaran ingin segera memilikinya. Ia pun memerintahkan pengawalnya agar segera memanjat pohon itu. Ketika pengawal itu mendekati dahan tempat Cengge` bertengger, Cengnge` segera terbang ke pohon beringin yang lain. Melihat gelagat burung Cengnge` itu, akhirnya putra raja memutuskan untuk memanjat pohon beringin itu dan ingin menangkap sendiri burung itu. Saat ia akan memanjat pohon beringin itu, tiba-tiba Cengnge` kembali bernyanyi dengan suara merdunya.

“Aku ini anak rantau sedang mencari anak raja yang bersedia merawatku, walaupun harus menjadi abdinya…”

Demikian kata Cengnge` dalam lagunya seraya terbang mendekat ke arah putra raja yang masih berada di bawah pohon beringin. Maka putra raja pun dapat menangkapnya dengan mudah. Akhirnya, burung Cengnge` itu dibawa pulang ke istana Raja Jawa dan dan dipelihara secara istimewa. Berbeda dengan burung peliharaan lainnya, putra raja tidak memasukkan Cengnge` ke dalam sangkar, karena Cengnge` termasuk burung yang jinak dan bersedia mengabdi kepadanya.

Sejak kehadiran Cengnge`, muncul keanehan di istana Raja Jawa. Setiap pagi, seluruh air persiapan untuk mandi pagi raja dan keluarganya selalu saja habis. Peristiwa aneh itu terus terjadi hingga berminggu-minggu dan bahkan berbulan-bulan. Keanehan itu kemudian menimbulkan kecurigaan raja. Akhirnya, Raja Jawa melakukan penyeledikan secara diam-diam.

Pada suatu malam yang sepi, sang Raja mengintip tempat pemandiannya. Alangkah terkejutnya saat ia melihat seorang gadis cantik jelita sedang mandi.

“Siapa gadis itu? Sepertinya aku belum pernah melihatnya,” kata sang Raja dalam hati sambil terus mengamati gadis itu.

Sementara si gadis tidak menyadari jika ada sepasang mata yang sedang memerhatikannya. Ia terus saja mandi dengan sepuas-puasnya. Setelah menghabiskan seluruh air di bak mandi itu, ia pun segera mengenakan pakaian (bulu)-nya yang diletakkan di pinggir bak mandi. Beberapa saat kemudian, ia pun kembali menjelma menjadi seekor burung Cengnge`.

Akhirnya, malam itu, penyamaran Cengnge` ketahuan juga oleh sang Raja.

“Mmm… rupanya dialah yang selama ini selalu menghabiskan air di bak mandiku,” gumam sang Raja lalu menghampiri gadis itu.

“Hei…gadis cantik! Siapa sebenarnya kamu ini? Kenapa menyamar menjadi seekor burung?” tanya sang Raja kepada Cengnge`.

“Ammm… Ammmp.. Ampun, Tuan! Hamba menjelmakan diri menjadi burung Cengnge`, karena hamba adalah anak perempuan yang tidak diinginkan oleh orangtua hamba,” jawab Cengnge` gugup ketakutan.

Mendengar jawaban Cengnge` yang menyedihkan itu, sang Raja tiba-tiba merasa iba kepadanya. Akhirnya, sang Raja memutuskan untuk menikahkan Cengnge` dengan putranya yang selama ini merawatnya. Tiga hari kemudian, pesta pernikahan Cengnge` dengan putra Raja Jawa pun dilangsungkan dengan meriah. Berbagai pertunjukan seni dipentaskan. Tamu undangan pun datang dari berbagai penjuru. Mereka turut berbahagia menyaksikan sepasang pengantin yang sangat serasi sedang duduk di atas pelaminan. Putra raja seorang pemuda yang tampan, sedangkan Cengnge` seorang gadis yang cantik jelita. Sejak saat itu, Cengnge` tinggal bersama suaminya di dalam istana Raja Jawa. Mereka pun hidup bahagia dan rukun.

* * *

Demikian cerita Cengnge` dari daerah Mandar, Sulawesi Barat, Indonesia. Cerita di atas termasuk ke dalam kategori dongeng yang mengandung pesan-pesan moral. Salah satu pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah sifat tidak pandai bersyukur. Sifat ini tercermin pada sikap dan perilaku Ayah Cengnge` yang tidak mau menerima pemberian Tuhan kepadanya. Dalam kehidupan orang Melayu, orang yang tidak pandai bersyukur dianggap kufur (paling tidak kufur nikmat) dan tak tahu diri. Dikatakan dalam tunjuk Ajar Melayu (Tennas Effendy, 2006: 427):
siapa yang tak mau mensyukuri nikmat,
disebutlah ia kufur nikmat

apa tanda batang kemiri
buahnya keras dibuat rempah
apa tanda yang tak tahu diri
beroleh karunia hatinya pongah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: