Datu Museng

Kisah ini berangkat dari cerita rakyat yang sangat popular di kalangan masyarakat suku Makassar. Cerita ini dituturkan oleh orang-orang tua kepada anak cucu mereka agar mendapatkan hikmah dan pendidikan kejuangan dan kesetiaan.
Kisah ini menceriterakan percintaan antara Datu Museng dan Maipa Deapati. Datu Museng adalah putra bangsawan dari Kerajan Gowa yang jatuh cinta kepada Maipa Deapati Putri bangsawan Kerajaan Sumbawa.
Perjumpaan mereka di rumah rumah nenek/Kakek Datu Museng Adearangang. Karena keduanya belajar mengaji di tempat itu. Datu Museng dengan berani menyatakan isi hatinya dan langsung melamar Maipa dengan jalan mengambil cincin gadis pujaan itu dan memasang di jari manisnya.
Meski demikian tidak berarti cinta Datu Museng dapat berjalan mulus, karena keluarga Istana Sumbawa memingit Maipa dengan sangat ketatnya. Bahkan telah menjodohkan Maipa dengan sepupunya yang bernama Karaeng Mangalasa. Datu Museng dan Maipa Deapati tidak dapat bertemu secara bebas lagi.
Melihat tantangan yang begitu berat Datu Museng memutuskan pergi mencari ilmu yang dapat digunakannya untuk mendapatkan Maipa. Maka Datu Museng kerangkat ke Tanah Suci Mekah. Di sanalah dia berguru dan mendapatkan ilmu “Bunga Ejana Madina”.
Dalam semua pesta di gelar permainan raga dan pada saat itu Datu Museng tampil mempertunjukkan kemahirannya bermain raga sekaligus ilmu yang dimilikinya. Raga yang disepaknya melambung tinggi dan meloncat masuk ke kamar Maipa dan menemuiny di sana. Bola raga itulah yang menjadi penyabung rindu keduanya.
Karena rindu yang tak tertahankan akhirnya mereka memutuskan untuk lari bersama ke tanah seberang, ke Makassar. Atas bantuan kakeknya, Adearangang keduanya melarikan diri ke Makassar. Di daerah inilah mereka membangun rumah tangganya.
Di Makassar tantangan lain datang lagi. Pemerintah Belanda yang bergelar Tumlompoa yang berkuasa tidak senang atas kehadiran Datu Museng. Bahkan Pimpinan Belanda tertarik pada kecantikan Maipa Deapati dan ingin mempersuntingnya. Akan tetapi mereka tidak mudah mengalahkan Datu Museng yang senantiasa melindungi dan menjaga Maipa.
Akan tetapi Belanda tak berputus asa ia menyerang Datu Museng dengan sangat gencar siang dan malam sampai pada akhirnya Datu Museng dan Maipa Deapati membuat keputusan untuk tetap bersama dalam hidup dan mati. Maipa tidak rela mati di tangan Belanda, tetapi hanya ingin menemui ajalnya di tangan suami yang dicintainya. Sehingga ketika pagi menjelang di hari berikutnya, ia mempersilahkan Datu Museng untuk menusukkan keris/badiknya ke lehernya dan Datu Musengpun melepaskan jimat kekebalannya sebelum menghadapi pasukan Belanda. Akhirnya Datu Musengpun gugur di medan laga.
Lihat juga versi lainnya Datu Museng dan Maipa Deapati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: